Satu Gairah Satu Keterampilan

Coba lihat ke balik kisah sukses luar biasa mana pun, selalu ada SATU Hal di sana. Ia hadir dalam kehidupan bisnis sukses mana pun dan dalam kehidupan professional siapa pun yang berhasil. SATU Hal juga hadir di sekitar gairah dan keterampilan seseorang. Kita masing-masing mempunyai gairah dan keterampilan, tetapi Anda akan menemukan orang-orang sukses luar biasa dengan emosi sangat kuat atau kemampuan hasil pembelajaran yang membuat mereka bersinar, yang membuat merekamenonjol atau yang menggerakkan mereka lebih dari pada apa pun yang lain.

Sering, batas antara gairah dan keterampilan tidak jelas, itu karena keduanya hampir selalu saling berhubungan. Pat Matthew, salah seorang pelukis impresionis besar Amerika, mengatakan ia mengubah gairahnya untuk melukis menjadi sebuah keterampilan, dan akhirnya sebuah profesi, cukup dengan melukis sebuah lukisan dalam sehari. Angelo Amorico, pemandu wisata paling sukses di Italia, mengatakan ia mengembangkan keterampilan-keterampilannya dan akhirnya bisnisnya dari gairah tunggal terhadap negerinya dan hasrat mendalam untuk membagikannya kepada orang lain.

Ini alur cerita untuk membagikannya kepada orang lain. Ini alur cerita untuk kisah-kisah sukses yang luar biasa. Gairah terhadap sesuatu mengantar ke penyediaan waktu yang berlimpah untuk berlatih atau mengerjakannya. Waktu yang di habiskan akhirnya membuahkan keterampilan, dan ketika keterampilan berkembang, begitu pula hasil-hasilnya. Hasil-hasil yang lebih baik umumnya mengantar ke kenikmatan lebih banyak, gairah lebih besar, dan pengerahan waktu lebih berlimpah. Situasinya bisa seperti sebuah lingkaran kebijakan dengan hasil-hasil luar biasa yang tiada henti.

Salah satu hal yang membuat Gilbert Tuhabonye bergairah adalah berlari. Gilbert adalah seorang pelari jarak jauh Amerika yang terlahir di Songa, Burundi, dengan kecintaan awal dalam dunia atletik yang membantunya memenangkan Kejuaraan Nasional Burundi dalam nomor 400 meter dan 800 meter putra padahal masih duduk di kelas tiga sekolah menengah atas. Gairah ini membantu menyelamatkan hidupnya.

Pada 21 Oktober 1993, anggota-anggota suku Hutu menyerbu sekolah Gilbert dan menangkap murid-murid yang berasal dari suku Tutsi. Mereak yang tidak langsung di bunuh di pukuli dan di bakar hidup-hidup di sebuah gedung di dekat situ. Setelah Sembilan jam terkubur di bawah mayat-mayat korban pembakaran, Gilbert berhasil menyelamatkan diri dan lepas dari para penyerbu menuju tempat yang aman di sebuah rumah sakit terdekat. Ia satu-satunya orang yang selamat.