Ada ‘pepatah’ yang banyak dikenal di kalangan thariqah, yaitu “cerah di awal, cerah di akhir”… Pepatah ini menggambarkan bahwasanya jika di tahap awal pencarian dan perjalanan, seseorang memiliki niat yang tulus dan murni hanya ingin kembali kepada Allah dan hanya Allah, serta bukan ikut-ikutan karena keluarga, teman atau orang lain, maka, Insya Allah, dia akan selamat hingga mencapai ma’rifat, untuk kemudian menempuh perjalanan sejati berikutnya, yaitu menjalankan misi hidupnya.

Walaupun di tengah perjalanan dia ‘babak belur’ oleh berbagai ujian dan godaan, namun niat yang lurus dan murni di awal itulah yang akan menyelamatkannya.

Hal ini, salah satunya, tertulis dengan sangat indah, sekaligus menyayat hati, dalam kitab “Mantiq Al-Tayr” karya Fariduddin Attar, yang di Indonesia diterjemahkan dan diterbitkan dengan judul “Musyawarah Burung”…

Rumi pernah bercerita sebagai berikut dalam Matsnawi:

: : : : : : : : : : : : : : : : :

Suatu hari, seseorang datang kepada tukang emas.

“Berikan timbangan emas padaku,” katanya, “Aku ingin menimbang beberapa gram emas.”

“Pergilah,” kata si tukang emas, “Aku tak punya saringan.”

“Berikan timbangan itu padaku,” ulang si lelaki, “Jangan bercanda denganku.”

“‘Aku tak punya sapu di dalam tokoku,’ kata si tukang emas.

“Cukup, cukup!” kata si lelaki, “Jangan bergurau lagi. Berikan timbangan emas yang kuminta. Jangan pura-pura tuli dan jangan berbicara yang tidak-tidak.”

“Aku dengar apa yang kau minta,” kata si tukang emas, “Aku tidak tuli. Jangan mengira kalau aku sedang bercanda. Aku mendengar semuanya. Tapi engkau adalah seorang tua yang sudah renta, tanganmu bergetar, tubuhmu pun sudah tidak tegak lagi. Emas yang kau bawa mengandung kadar yang sangat sedikit. Tanganmu yang bergetar akan menjatuhkan banyak serpihan emas. Lalu engkau pun akan berkata, ‘Tuan, bawakanlah aku sapu, sehingga aku dapat mencari serpihan emasku dalam debu.’ Ketika engkau menyapu dan mengumpulkan debu bersama emasmu, engkau akan berkata, ‘Aku minta saringan emas.’ Aku melihat semuanya dari awal sampai akhir. Pergilah dari sini dan carilah tempat yang lain, selamat siang!”

Hal yang permulaan telah menjelaskan akhirnya, maka dari itu engkau tidak dapat menyesali Hari Pembalasan.

: : : : : : : : : : : : : : : : :

Itulah kenapa Rasulullah saw bersabda:

“Sesungguhnya setiap amalan tergantung pada niatnya. Dan setiap orang akan mendapatkan apa yang ia niatkan. Siapa yang hijrahnya karena Allah dan Rasul-Nya, maka hijrahnya untuk Allah dan Rasul-Nya. Siapa yang hijrahnya karena mencari dunia atau karena perempuan yang dinikahinya, maka hijrahnya kepada yang ia tuju.” (HR Bukhari dan Muslim).

: : : : : : : : : : : : : : : : :

Karena itu, cobalah untuk membiasakan berdoa: “Ya Allah, aku titipkan diriku kepada-Mu dan jangan kembalikan aku kepada diriku sendiri walau sekejap mata”, lalu senantiasa murnikan niat pencarian dan perjalanan hanya untuk kembali kepada-Nya, serta jangan berputus asa sebab Allah telah berfirman:

“Dan janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah (rawhi Allahi), sesungguhnya tiada berputus asa dari rahmat Allah melainkan kaum yang kafir.”(QS Yusuf [10]: 87)