Saat manusia masih dikuasai oleh syahwat, yaitu hasrat material, seperti sawah, ladang, emas, perak, anak, perempuan, binatang ternak, gadget, mobil, rumah dan berbagai kesenangan fisikal lainnya, serta masih dikuasai oleh hawa nafsu, yaitu hasrat imaterial, seperti arogansi, harga diri, ketersinggungan, amarah, merasa pandai dan berbagai kesenangan eksistensial lainnya, maka jiwanya lumpuh, ‘mati’ tak berdaya.

Manusia seperti itu tak ubahnya ulat yang merusak pohon, menghabisi dedaunan juga buah-buahan, dan bahkan bulunya bisa membuat gatal, serta dianggap sebagai hama oleh petani.

Untuk itu, ulat tersebut harus ‘shaum’ dan ‘menarik diri dulu dari kehidupan dunia’ (atau uzlah) dengan menjadi kepompong, agar bisa bermetamorfosis menjadi makhluk yang jauh lebih indah, yaitu kupu-kupu yang cantik serta makanannya pun serbuk sari dan nektar dari bunga.

Itulah simbolisasi dari awal perjalanan (atau suluk) seseorang menuju taubatan nasuha.

Proses itu merupakan simbolisasi perjalanan manusia, khusus untuk yang memang ingin mencari jalan kembali kepada Tuhannya, khusus untuk yang ingin menempuh perjalanan menuju Ad-Dîn (atau agama). Kenapa? Sebab “awal dari Ad-Dîn adalah mengenal Allah (ma’rifatullah),” demikian jelas Ali bin Abi Thalib ra.

Itulah taubatan nasuha, yaitu perjalanan untuk sampai kepada ma’rifatullah, dan setelah sampai, maka barulah seseorang itu dikatakan mengawali hidupnya dalam Ad-Dîn, menjalani hari-harinya sebagai “yaumiddin” atau “hari agama”…

Namun, pertama-tama sekali, seseorang yang tadinya ‘merusak’ serta dikuasai hasrat tak terkendali seperti ulat, harus ‘bersuci’ sehingga jiwanya bisa bangun kembali. Jiwa atau nafs di sini bukanlah psikis ala psikologi (post)modern yang tak lebih dari mental saja, dan tidak lagi memahami jiwa sebagai wujud terpisah lagi otonom dari tubuh. Jiwa yang bangkit kembali dari ‘mati suri’ melalui pensucian itulah yang merupakan ‘diri manusia sebenarnya’; namun, sayangnya, bahkan kata “diri” itu sendiri pun telah mengalami karat makna di sana sini hingga hari ini.

Maka, saat orang bicara ihwal “diri” ke manakah kata itu diarahkan?

Belum lagi kebingungan dalam membedakan antara ‘nafs’ dengan ‘ruh’ yang bahkan sudah Al-Ghazali temukan di masa hidupnya lalu dituliskannya dalam bab ‘Keajaiban-keajaiban Hati’ di kitab “Ihya Ulumuddin”, dan ternyata masih tetap berlangsung hingga lebih dari seribu tahun kemudian, yaitu hingga hari ini.

Maka, kita pun selalu mendengar doa “semoga arwahnya diterima di sisi Tuhan”… Apakah satu manusia memiliki sedemikian banyak “ruh” sehingga “arwah”-nya harus didoakan? Dan, adakah “ruh” yang terkotori dosa serta masuk neraka? Bukankah ruh itu berasal dari “amr Rabb” dan akan kembali lagi ke sana?

Api merupakan simbol dari ruh, yang fungsinya bagi jiwa adalah untuk mengingatkan kembali ihwal persaksiannya dahulu di hadapan Rabb sebagaimana tertuang dalam QS Al-A‘râf [7]: 172. Akan tetapi, kebanyakan hanya tahu ihwal persaksian tersebut dari ayat itu saja, namun sudah tak ingat lagi bagaimana dia mengalaminya saat itu. Lupa sama sekali. Berarti, dia menjalani hidup di dunia ini dengan kondisi amnesia — tak ubahnya Jason Bourne yang memiliki kemahiran tertentu namun justru tak tahu ‘siapa dirinya’. Lupa akan peristiwa persaksian tersebut otomatis berarti lupa juga akan siapa dirinya, lupa diciptakan untuk menjadi apa, lupa ihwal misi hidupnya, lupa akan amal shalih khusus apa yang Allah amanahkan agar dia tegakkan di muka bumi ini.

Jiwa tak membutuhkan ruh untuk hidup, sebab jiwa diciptakan dari ‘sesuatu yang hidup’, yaitu nur ilahi. Namun tidak demikian halnya dengan tubuh, sebab tubuh diciptakan dari ‘sesuatu yang mati’, yaitu tanah dari bumi ini.

Karena itu, fungsi ruh bagi tubuh manusia adalah untuk menghidupkan, dan Allah memberikan simbolisasinya dalam bentuk darah yang menjalari segenap tubuh kita. Darah yang berwarna merah itu merepresentasikan bagian merah dari api yang ‘hangatnya’ terasa di tubuh kita. Tubuh yang sudah mati akan terasa dingin, sebab ‘api’ yang menghidupkan tubuh itu sudah padam. Dan, yang berasal dari bumi, akan dikembalikan ke bumi. Suatu saat nanti, tubuh kita akan kembali kepada ‘ibu pertiwi’ dalam bentuk gundukan tanah yang hanya ditandai oleh nisan.

Nah, untuk bisa menjadi seorang ‘arif billah’ atau ‘seseorang yang telah mencapai ma‘rifatullah’, maka, seperti kupu-kupu ketiga dalam puisi Rumi di atas, seseorang harus berani melemparkan dirinya ke jantung api, menempuh jalan menuju Cinta-Nya yang akan memusnahkan cinta dunia dan cinta diri, bahkan wujud sang kupu-kupu itu pun hilang tak tersisa.

Terakhir, mumpung masih bulan Ramadhan dan menjelang Idul Fitri, saya memohon maaf kepada teman-teman sekalian jika ada silap kateu, status yang ngaco dan comment yang menyebalkan. Maklum, saya sendiri masih tergolong salah satu ulat bulu yang membuat gatal tersebut. Mohon maaf sebesar-besarnya ya. Hampura pisan…